Kajian Insidensi Penyakit Bercak Daun pada Pembibitan Kelapa Sawit di Main Nursery PT. Socfindo Kebun Seunagan

Authors

  • Putri Andini Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Teuku Umar
  • Agustinur Agustinur Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Teuku Umar
  • Novian Charles Ritonga PT. Socfindo Kebun Seunagan

DOI:

https://doi.org/10.31941/biofarm.v18i2.2275

Abstract

Pengembangan perkebunan kelapa sawit tidak lepas dari kegiatan pembibitan. Pertumbuhan bibit merupakan kriteria penting yang dapat menentukan keberhasilan produksi kelapa sawit di lapangan. Saat pembibitan hal yang perlu diperhatikan adalah penyakit yang menyerang bibit. Kejadian penyakit perlu dipelajari pada tanaman agar penyakit dapat dikendalikan secara memadai sehingga produksi benih kelapa sawit dapat berjalan lancar, bebas penyakit dan tumbuh dengan baik. Pada bibit kelapa sawit, penyakit yang paling umum adalah penyakit bercak daun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menyelidiki kejadian penyakit bercak daun di pembibitan kelapa sawit. Lokasi penelitian ini adalah PT Socfindo Kebun Seunagan. Penelitian ini menggunakan metode observasi dan investigasi langsung, mengumpulkan berbagai data primer dan sekunder yang diperlukan, kemudian diolah dan diinterpretasikan dalam bentuk tabel komputasi dan deskripsi naratif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setiap perbedaan umur tanaman kelapa sawit memiliki tingkat intensitas serangan yang berbeda. Frekuensi serangan Culvularia sp. tertinggi pada umur 6 bulan yaitu 28,75% termasuk dalam kriteria terserang sedang dan frekuensi serangan pada umur 4 bulan yang paling terendah yaitu 25% termasuk dalam kriteria terserang ringan.

 

Kata kunci: Bercak daun, Bibit kelapa sawit, Main nursery, Penyakit, Perkebunan kelapa sawit.

References

CABI. 2022. African Oil Palm. Diakses pada tanggal 26 Februari 2022 melalui https://www.cabi.org/isc/datasheet/20295

Defitri, Yuza. 2015. Identifikasi Patogen Penyebab Penyakit Tanaman Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Desa Bertam Kecamatan Jambi Luar Kota. Jurnal Ilmia Universitas Batanghari Jambi, 15(4): 129-133.

Escalante M, Damas D, Márquez D, Gelvez W, Chacón H, Díaz A, Moreno B. 2010. Diagnosis and evaluation of pestalotiopsis, and insect vectors, in an oil palm plantation at the South of Maracaibo Lake, Venezuela. Bioagro. 22(3):211–216.

Kittimorakul J, Pornsuriya C, Sunpapao A, Petcharat V. 2013. Survey and incidence of leaf blight and leaf spot diseases of oil palm seedlings in Southern Thailand. Plant Pathol J., 12(3):149–153.

National Center for Biotechnology Information. 2022. Taxonomy Browser: Elaeis guineensis. Diakses pada tanggal 26 Februari 2022 melalui https://www.ncbi.nlm.nih.gov/Taxonomy/Browser/wwwtax.cgi?mode=Info&id=51953

Nurhayati, Sri. 2008. Nilai Strategis Industri Sawit. Analisis Kebijakan Pertanian, 6(4): 378-392.

Oben TT, Etta CA, Oguntade O, Wanobi OO, Mekanya CO. 2011. Bacterial and fungal pathogens associated with diseased oil palm (Elaeis guineensis) plants in Pamol Plantations, Cameroon, Central Africa. Phytopathology, 101.

Prasetyo, Agus Putra. 2013. Respons Curvularia lunata Penyebab Penyakit Bercak Daun Kelapa Sawit terhadap Berbagai Fungisida. 9(6): 165-172.

Rosa, R. Novrina dan S. Zaman. 2017. Pengelolaan Pembibitan Tanaman Kelapa Sawit (Elais guineensis Jacq.) di Kebun Bangun Bandar, Sumatera Utara. Buletin Agrohorti, 5(3); 325-333.

Solehudin, Dede, I. Suswanto dan Supriyanto. 2012. Status Penyakit Bercak Coklat Pada Pembibitan Kelapa Sawit di Kabupaten Sanggau. Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika, 2(1): 1-6.

Sunarko. 2014. Budi Daya Kelapa Sawit Diberbagai Jenis Lahan. Jakarta: Agro Media.

Sutarman. 2017. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Tanaman. Sidoarjo: UMSIDA PRESS.

Sutomo, SD, Akin HM. 2004. Ketahanan tiga spesies Arachis terhadap bercak daun akhir (Cercosporidium personatum Berk et Curt) pada pemberian dan tanpa mankozeb. J HPT. 4(2): 75–82.

Downloads

Published

2022-10-10