Upaya Peningkatan Produksi Buncis (Phaseolus Vulgaris L) dengan Defoliasi dan Pemberian Pupuk Phospat
DOI:
https://doi.org/10.31941/biofarm.v14i1.788Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh defoliasi dan pemberian pupuk phospat serta interaksinya terhadap peningkatan produksi buncis (phaseolus vulgaris L.), Dilaksanakan di desa Karangsari, Karanganyar, Pekalongan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas 2 faktor. Faktor pertama defoliasi (D), yaitu tanpa defoliasi, defoliasi 2 helai daun per rumpun, defoliasi 4 helai daun per rumpun. Faktor kedua dosis pupuk phospat (P), yaitu 0 kg SP36/ha (kontrol), 75 kg SP36/ha, 150 kg SP36/ha, 225 kg SP36/ha. Variabel pengamatan meliputi pajang tanaman, jumlah cabang per tanaman, jumlah polong per tanaman sempel, panjang polong per tanaman sempel, berat brangksan, berat polong per tanaman sempel, berat polong per petak, jumlah bunga per tanaman sempel, panjang akar terpanjang, berat akar per tanaman sempel. Hasil penelitian menunjukan bahwa defoliasi berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah polong per tanaman sempel dan berat akar per tanaman sempel, berbeda nyata terhadap berat polong per tanaman sempel dan berat polong per petak. Perlakuan defoliasi terbaik adalah defoliasi 4 helai daun per rumpun (D2). Pemberian pupuk phospat (P) berbeda sangat nyata terhadap semua variabel pengamatan. Perlakuan dosis pupuk phospat terbaik adalah 150 kg SP36/ha (P2). Terdapat interaksi yang sangat nyata antara defoliasi dengan pemberian pupuk phospat terhadap variabel jumlah polong per tanaman sempel dan berat akar per tanaman sempel, dan berbeda nyata terhadap variabel panjang polong per tanaman sempel. Kombinasi terbaik diperoleh pada defoliasi 4 helai daun per rumpun dengan dosis pupuk phospat (P) 150 kg SP36/ha (D2P2).
Kata kunci: buncis, defoliasi, phospat
References
Balai Penelitian Tanaman Sayuran. 2013. Varietas-varietas Buncis Yang Telah Dilepas Oleh Balai Penelititan Tanaman Sayuran. Lembang,
Bandung.
Badan Pusat Statistik. 2012. Buletin Statistik Perdagangan Ekspor-Impor. BPS, Jakarta.
Dewani, M. 2000. Pengaruh Defoliasi Terhadap Pertumbuhandan Hasil Tanaman Kacang Hijau (Vignaradiata L) Varietas Waletdan Wongsorejo. Universitas Lampung. Habitat Vol. 11 No. 113 Desember 2000.
Budiastuti, Sumarno, dan Harjanti. 1997. Kesesuaian Pemberian Ajirdan Defoliasi pada Tanaman Kedelai Varietas Wilisdan Lakon dalam Majalah Ilmiah. Universitas Sebelas Maret Edisi Maret 1997, Vol XII No. 1. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Novizan. 2007. Petunjuk Pemupukan yang Efektif. AgroMediaPustaka, Jakarta. Harjadi, S.S. 2003. Pengantar Agronomi. Gramedia, Jakarta.
Heddy, S. T. Wijono, dan W. Kusno. Pengaruh Pengurangan Daun (Defoliasi) terhadap Hasil Tanaman Kedelai pada Jarak Tanam Berbeda. Agrivita, Vol 13 (3) Agustus-Desember 1990.
Salisbury, F.B & C.W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: ITB Press. Lakitan, B. 1996. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. P.T. Grafindo Persada. Jakarta.
Rizqiani, N.F. E. Ambarwati, dan N.W. Yuwono. 2007. Pengaruh Dosis dan Frekuensi Pemberian Pupuk Organik Cair terhadap Pertumbuhan dan Hasil Buncis (Phaseolus vulgaris L.) Dataran Rendah. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, Vol. 7 (1) : 43-53.
Rinsema, W.T. 1995. Pupuk dan Cara Pemupukan. Bhatara Karya Aksara. Jakarta.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).
















