PENGARUH EARNING, SIZE DAN RASIO UTANG TERHADAP KEBIJAKAN DIVIDEN PADA PERUSAHAAN FARMASI YANG TERDAFTAR DI BEI
DOI:
https://doi.org/10.31941/jebi.v14i1.532Abstract
Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh pengaruh earning, size dan rasio utang terhadap kebijakan dividen pada perusahaan farmasi yang tedaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) jumlah perusahaan farmasi yang terdaftar sebanyak 9 (Sembilan) perusahaan. Sedangkan pemilihan sampel penelitian dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria (1) Perusahaan – perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2009 – 2012. (2) Perusahaan menerbitkan laporan keuangan selama periode pengamatan. Laporan keuangan yang digunakan sebagai sampel adalah laporan keuangan per tahun, dengan alasan laporan tersebut telah diaudit sehingga informasi yang dilaporkan lebih dapat terpercaya. (3) Perusahaan yang membagikan dividen pada periode pengamatan tahun 2009- 2012. Sehingga diperoleh jumlah sampel sebanyak 6 perusahaan. Data diperoleh dari www.idx.co.id. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda dan uji hipotesis yaitu menggunakan uji statistik F, uji statistik t serta koefisien determinasi. Selain itu juga dilakukan uji asumsi klasik yang meliputi uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji multikolonieritas, dan uji autokorelasi.
Berdasarkan hasil analisis (1) variabel earning (X1), size (X2) dan rasio utang (X3) secara simultan memiliki pengaruh sinifikan terhadap Kebijakan Dividen (Y) perusahan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). (2) Bahwa uji ANOVA atau F test adalah 6,048 dengan tingkat signifikansi 0,004 karena signifikansi 0,004 lebih kecil dari α = 0.05 (5%) maka hipotesis dapat diterima. (3) Hasil pengujian secara parsial diperoleh hasil : Nilai t hitung earning (X1) sebesar 2,300 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,032 , karena tingkat singnifikansi lebih kecil dari 0,05 maka variabel earning (X1) berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen (Y) perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Nilai t hitung Size (X2) sebesar -0,277
dengan tingkat signifikansi sebesar 0,784, karena tingkat singnifikansi lebih besar dari 0,05 maka variabel Size (X2) tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen (Y) perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Nilai t hitung Rasio Utang (X3) sebesar -0,654 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,521, karena tingkat singnifikansi lebih besar dari 0,05 maka variabel Rasio Utang (X3) tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen (Y) perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). (4) Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,476 atau 47,6 %. Hal ini dapat dijelaskan bahwa sekitar 47,6% Kebijakan Dividen (Y) perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dijelaskan oleh kombinasi variabel Earning (X1), Size (X2) dan Rasio Utang (X3) dan sisanya 52,4% dijelaskan oleh variabel lain diluar penelitian.
Kata kunci : Earning, Size, Rasio utang dan Kebijakan dividen.
Downloads
Issue
Section
License
Authors who publish with JEBI: Jurnal Ekonomi dan Bisnis agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the JEBI: Jurnal Ekonomi dan Bisnis right of first publication with the work simultaneously licensed under Creative Commons Attribution License (CC BY 4.0) that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors can enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or edit it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) before and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work.





