Hubungan Lama Penggunaan dan Frekuensi Oral Hygiene Pasien Dengan Ventilator Mekanik Terhadap VentilatorAssociated Pneumonia (VAP) di Ruang ICU
DOI:
https://doi.org/10.31941/pn.v1i01.2075Abstract
Ventilator Associated Pneumonia (VAP) adalah jenis penyakit pneumonia yang terjadi setelah 48 jam pasien mendapat bantuan ventilasi mekanik, baik melalui pipa endoktrakeal maupun pipa trakeostomi. VAP dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko, diantaranya lama penggunaan. Strategi dan pengelolaan yang tepat sangat dibutuhkan untuk mengurangi kejadian VAP dengan melakukan oral hygiene. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan lama penggunaan dan frekuensi oral hygiene pasien dengan ventilator mekanik terhadap VAP di Ruang ICU. Rancangan penelitian ini deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional yang melibatkan 22 responden dengan teknik pengambilan sampel simple random sampling. Berdasarkan uji Spearman Rank didapatkan hasil p value 0,131 (< 0,05), nilai r 0,332 yang berarti tidak ada hubungan antara lama penggunaan ventilator mekanik dan kejadian VAP dengan kekuatan hubungan yang lemah, serta didapatkan p value 0,000 (< 0,05) dan nilai r 0,869 yang berarti ada hubungan antara frekuensi oral hygiene dan kejadian VAP dengan kekuatan hubungan yang sangat kuat. Oleh karena itu, petugas kesehatan dapat menerapkan oral hygiene sebagai acuan dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien yang terpasang ventilator sebagai upaya pencegahan VAP. Kata kunci : Lama penggunaan ventilator mekanik, frekuensi oral hygiene, Ventilator Associated PneumoniaReferences
CDC. (2015). Center for Disease Control and Prevention.
Diling, et. al (2019). Risk Factors of Ventilator-Associated Pneumonia in Critically III Patients ICU Center. The Second Xiangya Hospital, Central South University, Changsha, China, 2 Department of Surgery
Handbook of Mechanical Ventilation. 2015. 1st ed. Intensive Care Foundation. London
Hipercci. (2016). Modul Pelatihan Keperawatan Intensive Dasar. Jakarta: In Media
Japoni (2011). Ventilator Associates Pneumonia in Iranian Intensive Care Unit
Kemenkes RI. (2017). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2017 Tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Lacerda Vidal, C. F., (2017). Impact of oral hygiene involving toothbrushing versus chlorhexidine in the prevention of ventilator-associated pneumonia: a randomized study. BMC infectious diseases, 17(1), 112.
Morton, P.G., & Fontaine, D. (2011). Keperawatan Kritis Pendekatan Asuhan Holistik Volume 1. Jakarta:EGC
Rista, et. al (2018). Faktor Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Ventilator Associated Pneumonia (VAP) Pada Pasien Yang Menggunakan Ventilator Mekanik Di ICU RSUD Tugurejo Semarang. Jurnal Ners Stikes Husada Semarang
Susanti, et, al. (2015). Identifikasi Faktor Resiko Kejadian Infeksi Nosokomial Pneumonia Pada Pasien Yang Terpasang Ventilator Di Ruang Intensive Care. JOM.
Waghray P., (2015). Mini BAL vs Bronchoscopic BAL in Intubated Patients in Tertiary Care Centre, Mahabubnagar, AP: Our Experience. Apollo Medicine xxx.
Widyaningsih, R. & Buntaran, L., (2012). Pola Kuman Penyebab Ventilator Associated Pneumonia (VAP) dan Sensitivitas terhadap Antibiotik di RSAB Harapan Kita. Sari Pediatri, 13(6), pp. 384-390.
World Health Organization. (2016). World Health Statistic 2015. USA: WHO
Yuliana, et. al. (2021). Hubungan Skor Modified Sequential Organ Failure Assessment (MSOFA) Dengan Kejadian Ventilator Associated Pneumonia (VAP) pada Pasien yang Terpasang Ventilator. Jurnal Ners Indonesia. Vol. 11 No. 2, Maret
Downloads
Published
Issue
Section
License
All published articles are Open Access which means they will be immediately and forever free for everyone to read and download. We use the CC-BY-SA license option under the Creative Commons Attribution License (CC BY-SA 4.0). Creative Commons Attribution License (CC BY-SA 4.0). CC-BY-SA guarantees that all works will always be available under CC-BY-SA and there is no risk of commercial action against the will of the copyright holder.


