POLA INTEROGASI PENYIDIK TERHADAP TERSANGKA PADA BERITA ACARA PEMERIKSAAN KASUS DELIK ADUAN TINJAUAN LINGUISTIK FORENSIK
Abstrak
Penyidik memegang kendali dari muara penyidikan. Penyidik juga mendominasi secara idealis. Konsep sentral kepemimpinan yang mencerminkan hegelianismenya adalah hegemoni, yaitu sebagai kepemimpinan budaya yang dijalankan oleh kelas yang berkuasa. Mempertentangkan hegemoni yang dijalankan oleh kekuasaan legislatif atau eksekutif, atau diekspresikan oleh campur tangan polisi. Fenomena ini menjadi layak diteliti dengan kajian pragmatik guna pengembangan keilmuan bidang linguistik di Indonesia. Penyidik memiliki kewenangan arah mata angin dalam menyelesaikan kasus. Berdasarkan wujud BAP. Melalui proses penyidikan itulah diperlukan saksi ahli hukum, saksi ahli pidana, dan saksi-saksi pendukung untuk mengupas tuntas perkara yang sedang ditangani. Bahasa hukum dapat berkembang sesuai dengan pengakuan pihak tersangka dalam proses BAP. BAP (Berita Acara Pemeriksaan) merupakan rahasia negara yang tidak boleh dipublikasikan untuk masyarakat umum.. Kebaharuan penelitian ini pada ranah pengambilan data penelitian, yaitu interogatif penyidik dengan tersangka. Hasil interogatif itulah yang dikaji, sehingga hasil penelitian ini menjadi sumbangan baru dalam dunia penelitian linguistik dan kepolisian. Bagaimanpun diperlukan SDM penyidik yang berkualitas. . Penelitian hukum normatif terdiri dari penelitian terhadap azas azas hukum. Pendekatan hukum normatif ini, terkait dengan penelitian hukum yang disebut dengan istilah legal research. Penelitian ini dapat menjadi acuan bagi penelitian selanjutnya pada bidang pragmatik, dan pragmatik kritis serta dapat ditindaklanjuti pada bidang linguistik forensik.
Referensi
Arifianti, Ika. 2021.Buku Ajar Pragmatik Teori dan Analisis. Semarang:CV Pilar Nusantara
Bawengan. 2006. Penyidikan Perkara Pidana dan Teknik Interograsi. Jakarta: Pradnya Pramita.
Bever, Thomas G. 1972. Perception, Thought, and Language dalam Language Comprehension and the Acquisition of Knowledge. Roy O. Freedle and John B. Carrol (ed) Washingtong, D.c. : V.H.Winston and Sons.
Emzir. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif: ANALISIS DATA. Jakarta: Rajawali Pers.
KUHAP dan KUHP. 2007. Jakarta:Sinar Grafika
Levinson, Stephen C. 1985. Pragatics.Cambridge:Cabridge University Press.
Retnosari, Ira Eko. 2014. “Praanggapan dan Implikatur dalam Mr. Pecut pada Jawa POS”. Jurnal Wahana, Vol.63 (2). http://jurnal.unipasby.ac.id/index.php/whn/article/view/1125/990.
Rahardi, Kunjana.2005. Pragmatik; Jakarta; Erlangga.
Ritzer, George. 2002. The McDonaldization of Society: New Century Edition. Thousand Oaks, Calif: Pine Forge Press.(Diakses pada tanggal 25 Februari 2018)
Velez, FredyRivera. 2014. Web 2.0 and National Security Strategies: Similarities Between and Perspectives on Spain and Ecuador. The Cases of #15M and #30S. American International Journal of Social Science. Vol 3 (2): 180-190. http://english.kalkinma.com.tr/userfiles/pagefiles/annualreports/annual_report_2014.pdf (Diakses pada tanggal 7Maret 2016).
Schiffrin, Deborah. 2007. Ancangan Kajian Wacana. Yogyakarta: Pustaka Pelajar (Diakses pada tanggal 25 Februari 2018)
Waluyo, Bambang. 2004. Pidana dan Pemidanaan. Jakarta: Sinar Grafika.
Wang, Na. 2013. An analysis of the pragmatic functions of “swearing” in interpersonal talk. Griffith Working Papers in Pragmatics and Intercultural Communication 6 (2013): 71-79. https://www.griffith.edu.au/__data/assets/pdf_file/0007/589453/Na-Wang.pdf. (Diakses pada tanggal 17 Februari 2016).