PENGKAYAAN PAKAN BUATAN MELALUI PENAMBAHAN VITAMIN E TERHADAP PERFORMAN EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, LAJU PERTUMBUHAN RELATIF DAN KELULUSHIDUPAN KEPITING BAKAU (Scylla paramamosain)

Authors

  • Diana Rachmawati Universitas Diponegoro
  • Istiyanto Samidjan Universitas Diponegoro

DOI:

https://doi.org/10.31941/jurnalpena.v27i2.668

Keywords:

Kepiting bakau (Scylla paramamosain), Vitamin E, Growth, Artificial Feed, Survival Rate

Abstract

Feed is one of the essential biological factors for the growth and survival of mud crab in especially mud crab (S. paramamosain).  This study aims to determine the effect of vitamin E on artificial feed for the growth and survival of mud crab (S. paramamosain). This study was conducted from January until March 2014 in the farming village of Tugu Village, Urban Tapak, District Mangkang, Semarang regency for 42 days. Test animals used were of mud crab (S. paramamosain) with an average initial weight 51.04±0.29 g. This study uses the Experimental Method with completely randomized design (CRD) is 4 treatments and 3 replications. The treatments tested were treatment A (artificial feed with vitamin E 0 g/100 g diet), B (artificial feed with vitamin E 0.4 g/100 g feed), C (artificial feed with vitamin E 0.6 g/100 g feed), and D (artificial feed with vitamin E 0.8 g/100 g). Results of this study showed the highest relative growth rate in treatment D (1.33±0.01). Highest utilization efficiency feed achieved by treatment D (27.07±1.22). Value of the survival rate of mud crab (S. paramamosain) ranged from 66.67 until 100.00%. Conclusion in this study is doses of vitamin E on artificial feed significant effect on utilization efficiency feed, relative growth rate but did not significantly effect on survival rate of mud crab (S. paramamosain). The best doses of vitamin E can be added to artificial feed for mud crab (S.paramamosain) was 0.8 g/100 g.

Author Biographies

Diana Rachmawati, Universitas Diponegoro

Program Studi Budidaya Perairan, Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Istiyanto Samidjan, Universitas Diponegoro

Program Studi Budidaya Perairan, Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

References

Alava VR, A Kanazawa, S Thesima and S Koshio. 1993. Effects of Dietary Vitamin A, E, and C on the Ovarian Development of Penaeus japonicus. Nippon Suisan Gakkaishi. 59 (7): 1235-1241.

Aditya, B.P., Sunaryo dan Ali Djunaedi. 2012. Pemberian Pellet Dengan Ukuran Berbeda Terhadap Pertumbuhan Kepiting Bakau (Scylla serrata) Forskal, 1755). Journal Of Marine Research I (1) : 146 – 152.

Agradi, E., Abrami G., Serrini G., Mckenzie D., Bolis C., dan Bronzi P. 1993. The Role of Dietary N-3 Fatty Acid And Vitamin E Supplements in Growth of Sturgeon (Acipenser naccarii). Comp. Biochem. Physiol. Part A (105): 187-195.

Amir. 1994. Penggemukan dan Peneluran Kepiting Bakau. TECHner. Jakarta. hal 41.

Aslamyah, S. dan Yushinta Fujaya. 2012. Respon Molting, Pertumbuhan, dan Komposisi Kimia Tubuh Kepiting Bakau pada Berbagai Kadar Karbohidrat Lemak Pakan Buatan yang Diperkaya dengan Vitomolt. Jurusan Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin. Makassar. hal 11-14.

Cholik, F. 2005. Review of Mud Crab Culture Research in Indonesia. Central Research Institute for Fisheries. Slipi. Jakarta. Indonesia. 310 p.

Dutta-Roy, A. K., M. J. Gorden., F. M. Campbell., G. and W. P. T. James. 1994. Vitamin E Requirements, Transport, and Metabolism: Role of -Tocoferol-Binding Proteins. J. Nutr. Biochem. 5:562–570.

Effendie, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta. 217 hal.

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air : Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Penerbit Kanisius.Yogyakarta. 258 hlm.

Fujaya, Y., S. Aslamyah dan Z. Usman. 2011. Respon Molting, Pertumbuhan dan Mortalitas Kepiting Bakau (Scylla olivacea) yang Disuplementasi Vitomolt melalui Injeksi dan Pakan Buatan. Jurnal Ilmu Kelautan Vol. 16(4) : 211-218.

Halver J.E. 1989. The vitamins In: Fish Nutrition. Academic Press. Inc., California. pp. 32-102.

Karim, M.Y. 2007. Kajian Osmoregulasi Kepiting Bakau (Scylla serrata, Forsskal) pada Salinitas Berbeda. Jurnal Perikanan Universitas Hasanuddin. VII (3) : 72 – 77. 6 hlm.

Lamidi, Asmanelli, dan Dalviah. 1996. Pengaruh Penambahan Vitamin E pada Pakan terhadap Pertumbuhan dan Tingkat Kematangan Gonad Ikan Beronang (Siganus canaliculatus). Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol. 2 (4) : 23-29.

Lee M.H., dan S.Y. Shiau 2004. Vitamin E Requirements of Juvenile Grass Shrimp, Penaeus monodon, and Effects on Non-Specific Immune Responses. Fish Shellfish Immunol. (16) : 475 – 485.

Marzuqi, M., Ketut Suwirya, dan T. Tsumura. 1996. Pengaruh Vitamin E Terhadap Perkembangan Gonad Udang Windu (Penaeus monodon) Asal Tambak. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol.2 (2): 1-5.

Prijono A, K Sugama, ZI Azwar, T Setiadharma dan T. Sutarmat. l99T.Implantasi vitaminE untuk memacu pematangan gonad induk ikan bandeng (Chanos chanos Forskal). Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 3 (l) :21 - 28.

Rachmawati, D., Hutabarat, J, dan Sutrisno Anggoro. 2012. Pengaruh Salinitas Berbeda Terhadap Pertumbuhan Keong Macan (Babylonia spirata L.) Pada Proses Domestikasi. Jurnal Ilmu Kelautan. Vol 17 (3) : 141-147.

Ramelan H.S. 1994. Pembenihan Kepiting Bakau (Scylla serrata). Direktorat Bina Perbenihan. Direktorat Jenderal Perikanan. Jakarta. 79 hlm.

Sagala, L.S., M. Idris, dan M. Nur Ibrahim. 2013. Perbandingan Pertumbuhan Kepiting Bakau (Scylla serrata) Jantan dan Betina Pada Metode Kurungan Dasar. Budidaya Perairan FPIK, Universitas Halu Oleo. Kendari. Jurnal Mina Laut Indonesia. Vol. 03 (12) : 46-54.

Serang A.M., Suprayudi M.A., Jusadi D., Mokoginta I. 2007. Pengaruh Kadar Protein Dan Rasio Energi Protein Pada Pakan Berbeda Terhadap Kinerja Pertumbuhan Benih Rajungan (Portunus pelagicus). Politeknik Perikanan Negeri Tual dan Institut Pertanian Bogor. Jurnal Akuakultur Indonesia VI (1) : 55 – 63.

Siagian, A. 2010. Gizi, Imunitas dan Penyakit Infeksi. Departemen Gizi dan Kesehatan FK Universitas Sumatera Utara. Medan. hlm 188-194.

Srigandono, 1987. Rancangan Percobaan. Universitas Diponegoro. Semarang. Hal 96-99.

Steffens, W. 1989. Principles of Fish Nutrition. Ellis Horwood Limited, West Sussex, England. 384 pp.

Stickney, R. R. 1979. Principles of warm water aquaculture. Jhon Wiley and Sons. Toronto. Pp : 161-221.

Sulaiman dan Hanafi. 1992. Pengaruh Padat Penebaran Terhadap Pertumbuhan, Kelangsungan Hidup dan Kematangan Gonad Kepiting Bakau (Scylla serrata) pada Kegiatan Produksi Kepiting Bertelur dengan Sistem Kurungan Tancap. Buletin Penelitian Perikanan 1 (2) : 43-49.

Tacon, A. G. T. 1987. The Nutrition and Feeding Farmed Fish and Shrimp. Training Manual FAO of The United Nations Brazilia, Brazil. 117 pp.

Watanabe T, T. Koizumi, H. Suzudi, S. Satoh, T. Takeuchi, N. Yoshida, T. Kitada and Y.Tsukashima. 1985. Improvement of Quality of Red Sea Bream Eggs by Feeding Broodstock on a Diet Containing Cuttlefish Meal or on Raw Krill Sortly Before Spawning. Bull. Jpn. Soc. Sci.Fish.5l : 15ll-1521.

Downloads

Published

2014-09-01