PERANAN MANGROVE SEBAGAI SHELTER BUDIDAYA KEPITING BAKAU (Scylla paramamosain) CANGKANG LUNAK (SOFT SHELL) TERHADAP PENINGKATAN PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN KEPITING
DOI:
https://doi.org/10.31941/jurnalpena.v27i2.672Keywords:
Kepiting bakau (Scylla paramamosain), Shelter, Pakan buatan, Pertumbuhan, Kelulushidupan.Abstract
Peranan mangrove sebagai shelter dapat memacu terjadinya molting karena mangrove mengandung nutrient unsur N,P,K sehingga kepiting cepat moulting teknik ini dikembangkan untuk mempercepat moulting kepiting bakau. Tujuan penelitian untuk mengkaji peranan mangrove sebagai shelter dengan persentase penutupan pada luasan media pemeliharaan yang berbeda dengan diberi pakan buatan terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau. Metode penelitian dengan menggunakan hewan uji kepiting bakau ukuran 144g±0.53 Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), 4 perlakuan dan 3 ulangan, pemberian daun mangrove dengan berbagai penutupan permukaan pada berbagai persentase yaitu perlakuan A (tanpa mangrove), B (25% mangrove luasan permukaan/m2), C (50% mangrove luasan permukaan/m2) dan D (75% mangrove luasan permukaan/m2). Penelitian dilakukan di tambak yang pematangnya dikelilingi tanaman mangrove sebagai shelter seluas ± 1500 m2 dengan teknik budidaya monokultur sistem intensif menggunakan karamba plastik masing-masing karamba diisi kepadatan 1 ekor/karamba atau 10 ekor/10 karamba/m2. Digunakan 120 basket dengan diberi pakan buatan dengan kandungan protein 35% sebanyak 5% perbiomas perhari yang diberikan pada pagi dan sore hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mangrove sebagai shelter pada kepiting bakau yang diberi pakan buatan dengan kandungan protein 35 % dan lemak nabati (5%) berpengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap pertumbuhan bobot mutlak, FCR dan kelulushidupan kepiting bakau. Pertumbuhan bobot mutlak tertinggi diperoleh dari perlakuan D (56.5±0.750 g) FCR terendah pada D (2.841663±0.5011) serta kelulushidupan kepiting bakau perlakuan D (93.33±11.55%). Peran mangrove sebagai tanaman pelindung (shelter) dapat memperbaiki kualitas air, sehingga kondisi kualitas air media pemeliharaan kepiting bakau layak, serta dapat meningkatkan kehidupan kepiting bakau yang ramah lingkunganReferences
Agus, M. 2008. Analisis Carrying Capacity Tambak pada Sentra Budidaya Kepiting Bakau (Scylla sp) di Kabupaten Pemalang- Jawa Tengah. [Thesis]. Program Pascasarjana Universitas Diponegoro, Semarang, 110 hlm.
Ahadi, M. R. 2003. Kandungan Tanin Terkondensasi dan Laju Dekomposisi pada Serasah Daun Rizhophora mucronata pada Ekosistem Tambak Tumpangsari di Blanakan, Purwakarta, Jawa Barat. Institut Pertanian Bogor . [tesisi]. 78, 102, 108 hlm.
Aquablok2b. 2007. Peranan dan fungsi hutan bakau. http://aquablok2b.wordpress. [ 2 Mei 2014].
Aslamyah.S. 2013. Laju Pengosongan Lambung, Komposisi Kimia Tubuh, Glikogen Hati dan Otot, Molting, dan Pertumbuhan Kepiting Bakau pada Berbagai Persentase Pemberian Pakan dalam Budidaya Kepiting Cangkang Lunak. [Lap.Pen. HB. III]. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin, Makassar, 12 hlm.
Boyd. C.E. 1990. Water Quality in Ponds for Aquaculture. Departement of Fisheries and Allied Aquacultures. Alabama Agricultural Experiment Station. Auburn University. Alabama. 480 p.
Chairunnisa, R. 2004. Kelimpahan kepiting bakau (Scylla sp) di Kawasan Hutan Mangrove KPH Batu Ampar, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat. [Skripsi]. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor, 14 hlm.
Chen, J.C. and J.S. Cheng. 2000. Study on the free acid levels in the hemolymph, gill, hepatopancreas and muscle of Penaeus monodon exposed to elevated ambient armnonia. Aquat Toxicol50: 27-37.
Cheng, S.Y., J.C. Chen. 2002. Study on the oxyhemocyanin, deoxy-hemocyanin, oxygen affinity and acid-base balance of Marsupenaeus japonicus following exposure to combined elevated nitrite and nitrate. Aquat Taxieol 61: 181-193.
Cheng, W., C.H. Liu., C.M. Kuo. 2003. Effect of dissolved oxygen on hemolymphparameters of freshwater giant prawn Macrobrachium rosenbergii (deMan). Aquaculture 220: 843-856.
Christensen S.M., D.J. Macintosh. And N.T. Phuong. 2004. Pond production of the mus crab Scylla paramamosain (Estampador) and Scyllaolivacea (Herbst) in The Mekong Delta, Vietnam, using two different supplementaIy diets. Aqua Res 35: 1013-1024.
Djajasewaka, A. 1985. Pakan Ikan (Makanan Ikan). Yasaguna. Jakarta. 47 hlm.
Djunaidah, I.S., M.R. Toelihere, M. I. Effendie3, S. Sukimin3 dan E. Riani. 2004. Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Benih Kepiting Bakau (Scylla paramamosain) yang Dipelihara pada Substrat Berbeda. Jurnal Ilmu Kelautan, Vol. 9(1) : 20–25.
Fujaya, Y. dan N. Alam. 2012. Pengaruh Kualitas Air, Siklus Bulan, Dan Pasang Surut Terhadap Molting dan Produksi Kepiting Cangkang Lunak (Soft Shell Crab) di Tambak Komersil. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin. Makasar.
Gwyther. 2000. Acute Toxicity of Nitrate on Penaeus monodonJuvenilsat Different Salinity Levels. Aquaculture 213: 163-170.
Tacon, A.G.J. 1987. The Nutrition and Feeding of Farmed Fish and Shrimp - a Training Manual, 1. The Essential Nutrient. Food Aquaculture Organization of The United Nation , Brazil. 108 pp.
Halver. J. E. 1980. Fish Nutrisi. dalam Kusumo, I. A. 2002. Pengaruh Penggunaan Pakan Buatan dengan Kandungan Energi Berbeda terhadap Pertumbuhan pada Penggemukan Kepiting Bakau (Scylla serrata Froskal). Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNDIP. (Skripsi).
Hanafiah, K.A. 2000. Rancangan Percobaan, Teori dan Aplikana. PT. Raja Grasindo Persada, Jakarta, 102-120 hlm.
Hasibuan, S.A., 2011. Laju Dekomposisi Serasah Daun Avicennia marina Setelah Aplikasi Fungi Aspergillus sp. Pada Berbagai Tingkat Salinitas. [Skripsi]. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan, 23 hlm.
Hastuti, R.B. 2011. Penerapan Wanamina (Silvofishery) Berwawasan Lingkungan di Pantai Utara Kota Semarang. Jurnal Lingkungan Tropis, Vol. 5(1):11-19.
Haryani dan Baso, M. 2012. Pengamatan Kualitas Air Media Pemeliharaan Krablet Kepiting Bakau (Scylla olivacea) dengan Penambahan Serasah Daun (Rizhopora mucronata). Prosiding Pertemuan Teknis Teknisi Litkayasa. 136-141 hlm.
Hepher, B. 1988. Nutrition of Pond Fishes. Cambridge University Press. New York. 385 pp.
Herlinah., Sulaeman, dan A. Tenriulo. 2010. Pembesaran Kepiting Bakau (Scylla serrata) Di Tambak Dengan Pemberian Pakan Berbeda. Dalam: Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur. Balai Riset Perikanan Bududaya Air Payau, Sulawesi Selatan, pp. 169-174.
Istiyanto.S. 2010.Peranan mangrove sebagai biofilter system dalam budidaya superintensif kepiting cangkang lunak (soft shell) berbasis kombinasi pakan buatan lemak hewani dan ikan kembung dalam upaya peningkatan produksi. Dalam Prosiding Semnaskan UGM VII,tanggal.24 Juli 2010.19 hal.
Djarijah.A. S. 2006. Pakan Ikan Alami. Cetakan 8. Kanisius. Yogyakarta. 87 hlm.
Karim, M.Y. 2005. Kinerja Pertumbuhan Kepiting Bakau Betina (Scylla serata Forskal) pada Berbagai Salinitas Media dan Evaluasi pada Salinitas Optimum dengan Kadar Protein Pakan Berbeda. [Disertasi]. Institut Pertanian Bogor, Bogor, 175 hlm.
Kasry, A. 1996. Budidaya Kepiting Bakau dan Biologi Ringkas. Bhatara, Jakarta. 93 hlm.
Keenan,C.P. and Blackshaw, A. 1998, Mud Crab Aquacultureand Biology. Proceeding of an International Scientific Forum Held in Darwin, Australia, 21-24 April 1997. ACIAR Proceedings No. 78, 216 P.
Kordi. 1997. Budidaya Kepiting dan Ikan Bandeng di Tambak Sistem Polikultur. Dahara Press. Semarang. 97 hlm.
Kuntiyo., Z. Arifin., dan T. Supratomo. 1994. Pedoman Budidaya Kepiting Bakau(Scylla serrata) di Tambak. Direktorat Jenderal Perikanan, Balai Budidaya Air Payau. Jepara.
Moosa, M.K., I. Aswandy dan A. Kasry. 1985. Kepiting Bakau, Scylla serrata (Forskal) dari Perairan Indonesia. LON-LIPI, Jakarta 18 hal.
Putra. W. K. 2011. Laju Dekomposisi Serasah Daun Rhizophora mucronata Setelah Aplikasi Fungi Penicillium Sp., Aspergillus Sp., dan Curvularia Sp. pada Berbagai Tingkat Salinitas. Universitas Sumatra Utara. Medan. [Skripsi]. 42 hlm.
Rejeki, S. 2001. Pengantar Budidaya Perairan. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang. 76 hlm.
Samidjan, I. 2012. Rekayasa Budidaya Kepiting Bakau Melalui Manipulasi Penggunaan Ekstrak Bayam dan Mangrove Sebagai Shelter Untuk Peningkatan Produksi Kepiting Bakau (Scylla paramamosain). Prosiding Seminar Nasional Bioteknologi Kelautan dan Perikanan. 161-168 hlm.
Watanabe (1998) dalam Siregar dan Adelin (2009),
Soim, A. 1999. Pembesaran Kepiting. Penebar Swadaya. Jakarta. 62 hlm
Sopana, A. G., Widyaleksono, T., Soedarti, S. 2009. Produktivitas Serasah Mangrove di Kawasan Wonorejo Pantai Timur Surabaya. Jurnal Litbang Pertanian, 23 (1). 34-41.
Watanabe. S, Sulistiono and Yokota. M. 2001. Crabs Resources and Stock Enhancement. Jurnal Ilmu-ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Edisi Khusus Crustacea. Intitut Pertanian Bogor. pp. 85-96.
Webster, C.D., Thompson, T.R and Muzinic, L. 2002. Feeding Fish and How Feeding Frequency Affects Sunshine Bass. Dalam Niken, M. 2003. Pengaruh Pemberian Pakan Buatan Dengan Kadar lemak yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Juvenil Ikan Kerapu Batik (Epinephelus B.1849). Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNDIP. (Skripsi)
Downloads
Published
Issue
Section
License
- Hak publikasi jurnal menjadi milik pengelola jurnal dengan sepengetahuan penulis, sedangkan hak moral publikasi menjadi milik penulis.
- Aspek legal formal terhadap aksesibilitas publikasi jurnal mengacu pada lisensi Creative Commons Atribusi-NonCommercial-No Derivative (CC BY-NC-ND), yangberarti bahwa publikasi dapat dimanfaatkan dengan tujuan non-komersial dan dalam bentuk aslinya (tidak dapat dimodifikasi).
- Setiap publikasi jurnal (cetak/elektronik) bersifat open access untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan perpustakaan. Di luar tujuan tersebut, pengelola jurnal tidak bertanggung jawab atas pelanggaran hak cipta yang dilakukan oleh pihak tertentu.