REVIEW : PERBEDAAN PELARUT AKUADES DAN ETANOL TERHADAP KADAR BETASIANIN DALAM EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV_VIS DAN KCKT (KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI)
DOI:
https://doi.org/10.31941/benzena.v1i01.2143Abstract
Latar Belakang Buah naga merah merupakan tanaman yang tumbuh di daerah tropis. Tingginya konsumsi buah naga merah, berdampak pada menumpuknya Kulit Buah Naga Merah yang hanya dibuang sebagai sampah, diketahui kulit buah ini mempunyai sumber pewarna alami merah yaitu senyawa betasianin.
Tujuan Penelitian Untuk mengetahui pengaruh perbedaan pelarut akuades dan etanol yang digunakan untuk ekstraksi kulit buah naga merah terhadap kadar senyawa betasianin dengan metode spektrofotometri UV_Vis dan KCKT.
Metode Metode ekstraksi yang digunakan adalah metode maserasi dengan menggunakan akuades dan pelarut etanol. Sedangkan untuk mengetahui pengaruh pelarut dan kadar senyawa betasianin dari ekstrak kulit buah naga merah dianalisis dengan Uji Normalitas dengan interpretasi> 0,05, data berdistribusi normal dilanjutkan dengan Uji T (Independent Sample Test), bila interpretasi <0,05 terdapat pengaruh yang signifikan terhadap data.
Hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelarut ekstraksi menggunakan akuades berpengaruh terhadap kadar senyawa betasianin dengan metode spektrofotometri (nilai signifikansi 0,009 <0,05), sedangkan pelarut ekstraksi etanol tidak berpengaruh nyata. Kemudian perbedaan pelarut aquadest dan etanol tidak mempengaruhi kadar senyawa betasianin yang dianalisis dengan metode HPLC, hal ini dibuktikan dengan nilai signifikansi yaitu> 0,05.
Kesimpulan Disimpulkan bahwa perbedaan pelarut aquades dan etanol berpengaruh terhadap kadar senyawa betasianin dari ekstrak kulit buah naga merah dengan metode spektofotometri UV_Vis, sedangkan analisis betacyanin dengan metode HPLC tidak berpengaruh terhadap kadar betasianin dari ekstrak kulit buah naga merah. ekstrak kulit buah naga merah.
Kata Kunci : Kulit Buah Naga Merah, Betasianin, Akuades dan Etanol, Spektrofotometri UV_Vis, KCKT.
Downloads
References
Ansel, H.C. (2008). Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, ed IV, Alih bahasa Ibrahim, F. Jakarta : UI Press.
Azerdo, H.M.C,. 2006. Betalains, Properties, Source, Applications, and Stability. Critical Review International Journal Foos Science and Technology. 44 : 2365 – 2376.
Azeredo., H.M.C., (2006). Betalains : properties, sources, applications, and stability – a review. International Journal of Food Science & Technology. Brazil.
Cahyadi, W. 2008. Analisis dan Aspek Bahan Tambahan Pangan Edisi Ke-2. PT. Bumi Aksara. Jakarta.
Cahyono, B., 2009, Sukses Bertanam Buah Naga. Jakarta: Pustaka Mina. Halaman 14-16.
Cai, Y., M. Sun., H. Wu, R. Huang and H. Corke. 1998. Characterization Quantification of Betacyanin Pigmen from Diverse Amaranthus species. J. Argic Food Chem.46 (6) : 2063 – 2069.
Citramukti, Imaniar. 2008. Ekstraksi dan Uji Kualitas Pigmen Antosianin Pada Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus costaricensis) (Kajian Masa Simpan Buah dan Penggunaan Jenis Pelarut).
Coultate, T.P. (1996). Food The Chemistry of Its Components. 3nd edition. The Royal Society and Chemistry Company. Cambridge.
Darmawi, A.W. 2011. Optimasi proses ekstraksi, pengaruh pH dan jenis cahaya pada aktivitas antioksidan dari kulit buah naga (H. polyrhizus).
Departemen Kesehatan RI, 2000, Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, Cetakan Pertama, 3-11, 17-19, Dikjen POM, Direktorat Pengawasan Obat Tradisional.
Emilan, T., Kurnia, A., Utami, B., et al,. 2011. Konsep Herbal Indonesia : Pemastian Mutu Produk Herbal. Jakarta. FMIPA : Universitas Indonesia.
Farida, A., Rahmi, H., Daimon, S. Identifikasi Pigmen Betasianin dari Kulit buah Naga Merah (Hylocereus Pholyrhizus). Jurnal Fakultas Teknik Pertanian, Universitas Andalas. 49 (2) : 147 -154.
Hardjadinata S. 2010. Budi daya buah naga super red secara organik. Edisi 1. Jakarta: Penebar Swadaya.
Herborne J.B. 1987. Metode Fitokimia Penentuan Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Edisi II. Diterjemahkan oleh Padmawinata K., Sudiro I,. Bandung : ITB.
Kanner, K., Harel, S.,Granit, R., 2001, Betalains – A new class of dietary cationized Antioxidants. Journal of Agricultural and Food Chemistry, 49,5178–5185.
Khalida, Y., 2010. A comparative study on the extraction of betacyanin in the peel and flesh of dragon fruit.Faculty of Chemical and Natural Resources Engineering Universiti Malasyia Pahang, Malasyia.
Khopkar. (2008). Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI-Press.
Khuluk A,D., Wijarmoko S.B., Murtini E.S,. 2007. Ekstraksi dan Stabilitas Betasianin Daun Darah (Athernathera denante) Kajian Pelarut Etanol : Air dan Suhu Ekstraksi. Jurnal Teknologi Pertanian. 8 (3).
Kripke, M.L., 1994, Ultraviolet Radiation and Immunology: Something New under the Sun Presidential Address, CANCER RESEARCH 54, 6102- 6105.
Kristanto, Daniel. 2008. Buah Naga Pembudidayaan Di Pot Dan Di Kebun. Surabaya : Penebar Swadaya.
Kristanto, Daniel., 2009, Buah Naga : Pembudidayaan di Pot dan di Kebun, Jakarta : Penebar Swadaya
Martinus H. Pengaruh Teknologi Terhadap Kesehatan Jakarta: Mitra Pertama.
Naderi, N., Hasanah, M.G., Manap, M.Y., dan Sayed, D.J. 2012. Betalain Extraction from Hylocereus polyrhyzus for Natural Food Coloring Purpose. Research Gate. Vol. 12: 143-154.
Novatama , S. M., Kusumo, E., & Supartono. 2016. Identifikasi Betasianin dan Uji Antioksidan Ekstrak Kulit Buah Bit Merah (Beta vulgaris L). Indonesian Journal of Chemical Science. 5(3) : 217 – 220.
Ramli, N. S., P. Ismail., and A. Rahmat. 2014. Influence of Conventional and Ultrasonic-Assited extraction on Phenolic Contents, Betacyanin Contents, and Antioxidant Capacity of Red Dragon Fruit (Hylocereuspolyrhizus). Journal The Scientific World 1. 1-7.
Ridho Asra., Rina Desni Y., Rusdi., Selly Audiana., Nessa,. 2019. Studi Fisikokimia Betasianin Dalam Kulit Buah Naga dan Aplikasinya Sebagai Pewarna Merah Alami Sediaan Farmasi. Galenika Journal of Pharmacy. 5 (2): 140 – 146
Saati, elfi, Anis. Dkk. 2011. Optimalisasi Fungsi Pigmen Bunga Mawar Sortiran Sebagai Zat Pewarna AlamiDan Bioaktif Pada Beberapa Produk Industri. Jurnal Teknik Industri, Vol. 12, No. 2, Agustus 2011:133 -140
Setiono, M.H., Dewi, A.A., 2013, Penentuan Jenis Solven dan Ph Optimum pada Analisis Senyawa Delphinidin Dalam Kelopak Bunga Rosella Dengan Metode Spektrofotometri Uv-Vis, Jurnal Teknologi Kimia, Vol.2, No.2.
Skoog, D.A., dan West, D. M.. 1971. Principles of Instrumental Analysis. Holt, Rinehart and Winston, Inc: New York.
Thermo Nicolet. 2001. Introduction to FTIR Spectrometry. Inc : Madison, USA.
Tim Karya Tani Mandiri (2009). Pedoman Bertanam Buah Naga. Jakarta : Nuansa Aulia.
Vargas F.D., Jimenez A.R., Lopez O.P,. 2010. Natural Pigmencteristic, Carotenoid, Anthocyanin, and Betalains Characteristic, Biosynthesisi, Processing, and Stability. Critical Review in Food Science and Nutrition. 40 (3) : 173 – 289.
Wahyuni, Rekna. 2011. “Pemanfaatan Kulit Buah Naga Supermerah (Hylocereus costaricensis) Sebagai Sumber Antioksidan dan Pewarna Alami Pada Pembuatan Jelly”. Jurnal Teknologi Pangan. Vol. 2 No.1, hlm. 68 – 85.
Wulandari, Rini. 2011. Laporan Tugas Akhir Pengujian Zat Warna Dari Kulit Buah Naga Dengan Menggunakan Spektrofotometer Optima Sp-300. Program Diploma Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang
Downloads
Published
Issue
Section
License
uthors who publish with BENZENA Pharmaceutical Scientific Journal agree to the following terms:- Authors retain copyright and grant the BENZENA Pharmaceutical Scientific Journal right of first publication with the work simultaneously licensed under Creative Commons Attribution License (CC BY 4.0) that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors can enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or edit it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) before and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work.



