LEGAL REVIEW OF FOREST CONVERSION FOR PALM OIL PLANTATIONS IN THE INTERESTS OF RENEWABLE ENERGY

Authors

  • Evy Harjono Second chance foundation, PT Sangrae Jaya Internasional, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.31941/pj.v24i2.6182

Keywords:

Keywords: Forest Conversion, Environmental Regulation, Oil Palm Plantation, Sustainability, Forestry Law.

Abstract

Abstract

Forest conversion for oil palm plantations is a complex issue in Indonesia. This sector contributes significantly to the national economy through exports and job creation, but on the other hand causes negative impacts such as deforestation, loss of biodiversity, and agrarian conflicts involving indigenous peoples and small farmers. The government has established various regulations, including Law No. 41 of 1999 concerning Forestry, Law No. 32 of 2009 concerning Environmental Protection and Management, and Law No. 39 of 2014 concerning Plantations to control forest conversion. Unfortunately, the implementation of this policy still faces challenges, especially in terms of law enforcement and licensing transparency. This study uses a normative juridical method by analyzing national regulations and international policies such as the 2015 Paris Agreement and the Convention on Biological Diversity (CBD). The results of the study show that weak supervision, corruption in licensing, and minimal coordination between agencies are the main obstacles in managing forest conversion. Therefore, a stricter strategy is needed in monitoring licensing, increasing transparency in land management, and implementing stricter sanctions for violators of regulations. In addition, sustainability standards such as the Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) and Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) need to be strengthened to ensure that the palm oil industry can develop without damaging the environment. With these steps, it is hoped that the management of natural resources in Indonesia can be more balanced between economic, social, and ecological interests.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Refrences

Buku dan Jurnal

Amil, A., & Rachman, T. (2019). Implementasi Undang-Undang No. 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Perusakan Hutan (Studi Kasus Tentang Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Masyarakat Melakukan Perambahan Hutan Di Desa Lunyuk Ode Kecamatan Lunyuk Kabupaten Sumbawa Besar). JIAP (Jurnal Ilmu Administrasi Publik), 6(2), 152-161.

Arsyad, S., & Rustiadi, E. (Eds.). (2008). Penyelamatan tanah, air, dan lingkungan. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Assidiq, H. (2020). Perlindungan Hukum Keanekaragaman Hayati Dalam Perkebunan Sawit Berdasarkan Convention On Biological Diversity (Doctoral dissertation, Universitas Hasanuddin).

Farina, T., Nugraha, S., Mulyawan, A., & Wijaya, A. (2024). Pengakuan dan perlindungan hutan adat dalam mewujudkan hak masyarakat hukum adat di Provinsi Kalimantan Tengah. UNES Law Review, 6(3), 9377-9389.

Hermawan, D. D. K., Salampessy, A. M., Asywaq, A. C., & Alghaida, A. N. (2024). DAMPAK KEBAKARAN LAHAN GAMBUT TERHADAP MANUSIA DAN LINGKUNGAN DITINJAU DARI PERSPEKTIF PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 57 TAHUN 2016. Jurnal Ilmiah Kajian Multidisipliner, 8(12).

Hidayah, N., Dharmawan, A. H., & Barus, B. (2016). Ekspansi perkebunan kelapa sawit dan perubahan sosial ekologi pedesaan. Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan, 4(3), 249-56.

Husin, Saleh. 2024. Hilirisasi Sawit Cegah Middle Income Trap. Jakarta: PT Nusantaralestari Ceriapratama

Hutagalung, S. P., & Butar, F. B. (2021). Akibat Hukum Perusahaan Perkebunan yang Tidak Melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan. Media Iuris, 4(2), 215-242.

Kamim, A. B. M., & Abrar, M. I. (2020). Marginalisasi Kesejahteraan Hewan Akibat Ambisi Peningkatan Ekspor Minyak Sawit di Indonesia. Jurnal Borneo Administrator, 16(1), 39-60.

Kurniawan, E. D., Hartanto, S., & Susi, T. (2023). Dampak Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Jumlah Stok Karbon Dan Penanganan Berkelanjutan. Prosiding SEMSINA, 4(2), 165-172.

Kusumaputra, A. (2021). Dekonstruksi Pembangunan Berkelanjutan Melalui Otonomi Daerah Dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Pasca Omnibus Law. LITRA: Jurnal Hukum Lingkungan, Tata Ruang, Dan Agraria, 1(1), 45-58.

Mulyono, A. T., & Karo, R. K. (2023, December). Questioning a Fair Settlement as The Legal Resolution of Global Interests. In IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (Vol. 1270, No. 1, p. 012025). IOP Publishing.

Rahman, A., Wasistiono, S., Riyani, O., & Tahir, I. (2023). Peran Organisasi Masyarakat (Ormas) dan Lembaga Swadaya Masyarat (LSM) dalam Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia. Ekonomis: Journal of Economics and Business, 7(2), 1461-1471.

Rahman, B. A. W., Karjaya, L. P., Dewanto, P. A., & Estriani, H. N. (2023). Peran Greenpeace Indonesia dalam Melindungi Lembah Grime Nawa dari Deforestasi di Papua. Indonesian Journal of Peace and Security Studies (IJPSS), 5(2), 91-114.

Sawit, U. P. T. K., & Tampung, D. D. D. Kertas Kebijakan.

Zuhir, M. A., Imami, A. D., & Idris, I. (2017). Indonesia Pasca Ratifikasi Perjanjian Paris 2015; Antara Komitmen dan Realitas. Bina Hukum Lingkungan, 1(2), 231-248.

Peraturan Perundang-Undangan

Undang-Undang Dasar 1945.

Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Undang-Undang No. 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

Undang-Undang No. 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan.

Instruksi Presiden (INPRES) No. 8 Tahun 2018 tentang Penundaan dan Evaluasi Perizinan Perkebunan Kelapa Sawit serta Peningkatan Produktivitas Perkebunan Kelapa Sawit.

Sumber Lain

Badan Pusat Statistik. (n.d.). Badan Pusat Statistik Indonesia. https://www.bps.go.id/id.

Indra Rahmatullah. Desember 2014. Perlindungan Indikasi Geografis dalam Hak Kekayaan Intelektual Melalui Ratifikasi Perjanjian Lisabon. Jurnal Cita Hukum. Vol. II No.2. ISSN : 2356-1440. Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Siti Asfiyah. Oktober 2015. Perlindungan Hukum Potensi Indikasi Geografis Di Kabupaten Brebes Guna Pengembangan Ekonomi Masyarakat Lokal. Jurnal Idea Hukum, Vol.1 No.2. Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman.

Tatty Ramli dan Yetti Sumiati. 2008. Impplikasi Pendaftaran Indikasi Geografis Terhadap Potensi Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat. Jurnal Hukum Bisnis. Bo.27 No.4.

Winda Risna Yessiningrum. 2015. Perlindungan Hukum Indikasi Geografis Sebagai Bagian Dari Hak Kekayaan Intelektual. Jurnal Kajian Hukum dan Keadilan IUS, Vol. III, No.7. p.45

Yuni Zanesty Hutapea. 2020. Analysis of Factors Affecting Demand For Gayo Robusta Coffee (Coffee Camephora). Universitas Medan Area. http://repository.uma.ac.id/handle/123456789/12125

1945 Constitution of the Republic of Indonesia

Law Number 19 of 2013 concerning Protection and Empowerment of Farmers

Law of the Republic of Indonesia Number 20 of 2016 concerning Marks and Geographical Indications

Government Regulation No. 51 of 2007 concerning Geographical Indications http://www.aekiaice.org/

https://www.talkaboutcoffee.com/coffee-beans.html Coffe Beans – The Many Varieties of The Coffe Plant.https://ig.dgip.go.id/detail-ig/26#batas-wilayah

Downloads

Published

2025-06-01