From Silent Act to Legal Certainty: Examining Government Officials' Response to Land Rights Applications under Lex Silencio Positivo

Authors

  • Dani Harianto Universitas Jember

DOI:

https://doi.org/10.31941/pj.v24i1.5989

Keywords:

Governmental Silent Act, Lex Silencio Positivo, Land Rights Application, Legal Consequences, Good Governance Principles

Abstract

This study aimed to identify the characteristics of the Governmental Silent Act (Principle of Lex Silencio Positivo) in the land rights application proposed by the Community, to find the legal consequences when the government remains "silent" (Principle of Lex Silencio Positivo) on the land rights application proposed by the Community, and to analyze the construction of norms that provide legal certainty regarding the Silent Act (Principle of Lex Silencio Positivo) by the government in relation to the land rights application submitted by the Community. This study was conducted using a normative legal research method, employing a legislative approach, a conceptual approach, a historical approach, a case approach, and a comparative approach. The results of this study showed that the legal consequences of the Governmental Silent Act on land rights applications lead to uncertainty regarding the status of the land rights proposed by the applicants. This uncertainty results in grievances for the parties affected by the Governmental Silent Act, including the applicants themselves. Furthermore, the legal consequences of the Governmental Silent Act are seen as a violation of the General Principles of Good Governance, as it has caused legal uncertainty over the land rights applications proposed by the applicants. Meanwhile, the decision is an obligation for government officials, as mandated in Article 175 of the Omnibus Law (Cipta Kerja) in conjunction with Article 53 of the Government Administrative Law. The legal consequences of the government's silence also lead to potential material losses for applicants, which include individuals, legal entities, and government institutions with a legal interest in the land rights application.

 

Downloads

Download data is not yet available.

References

Aberastury, P. (2023). Administrative Silence. Intersentia.

Aditya, Z. F., & Al-Fatih, S. (2023). Redesign of Positive Fictitious Efforts After the Job Creation Law. Jurnal Konstitusi, 20(2), 340–357. https://doi.org/10.31078/jk2029

Ahmad. (2017). Konsep Fiktif Positif: Penerapannya di Pengadilan Tata Usaha Negara. Jurnal Hukum Replik, 5(2), 141. https://doi.org/10.31000/jhr.v5i2.923

Apriani, D., & Bur, A. (2020). Kepastian Hukum Dan Perlindungan Hukum Dalam Sistem Publikasi Pendaftaran Tanah Di Indonesia. Jurnal Bina Mulia Hukum, 5(2), 220–239. https://doi.org/10.23920/jbmh.v5i2.11

Arsy, E. A., Widhiyanti, H. N., & Ruslijanto, P. A. (2021). Tanggung Jawab Notaris Terhadap Akta Yang Cacat Hukum Dan Tidak Sesuai Dengan Ketentuan Pembuatan Akta Dalam Undang-Undang Jabatan Notaris. Jurnal Bina Mulia Hukum, 6(1), 130–140. https://doi.org/10.23920/jbmh.v6i1.324

Asikin, A. dan Z. (2020). Pengantar Metode Penelitian Hukum. Rajawali Pers.

Asikin, Z. (2012). Pengantar Tata Hukum Indonesia. Rajawali Press.

Asshiddiqie, J., & Safa’at, M. A. (2016). Teori Hans Kelsen Tentang Hukum. In Mahkamah Konstitusi RI (Issue Jakarta).

Binawan, A. A. L. (2022). Empat Problematik Filosofis Hukum Dalam Dinamika Hubungan Keadilan Dan Kepastian. Masalah-Masalah Hukum, 51(3), 314–324. https://doi.org/10.14710/mmh.51.3.2022.314-324

Peraturan Menteri Agraria Dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2016 Tentang Sistem Kendali Mutu Program Pertanahan, Agraria Dan Tata Ruang, 2015 (2016).

Cekli Setya Pratiwi, Purnamawati, S. A., Fauzi, & Purbawati, C. Y. (2015). Asas-Asas Umum Pemerintahan yang Baik. Lembaga Kajian dan Advokasi untuk Independensi Peradilan (LeIP).

Chevalier, E. (2020). Silence in French Administrative System: A Failed Revolution? The Sound of Silence in European Administrative Law. European Administrative Law, 1(4), 112–120.

De Graaf, K. J., & Hoogstra, N. G. (2013). Silence is golden? Tacit authorizations in the Netherlands, Germany and France. Review of European Administrative Law, 6(2), 7–34.

Djohan Oe, M. (2015). Tugas dan Fungsi Badan Pertanahan Nasional Dalam Pendaftaran Tanah. Pranata Hukum, 10(1), 62–74.

Efendi, D. O. S. dan A. (2018). Penelitian Hukum (Legal Research). Sinar Grafika.

Eka, N., Zahro, F., & Basri, A. H. (2023). Konsep Permohonan Keputusan Fiktif Positif Pasca Berlakunya Pasal 175 Angka 7 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 Tentang Penetapan Peraturan Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 Tentang Cipta Kerja. Jurnal Hukum Dan Hukum Islam, 1(1), 1–23.

Ernanda, D., Istislam, & Yuliati. (2021). Penerapan asas-asas umum pemerintahan yang baik dalam penyelesaian sengketa tanah hak milik. Jurnal Cakrawala Hukum, 12(1), 32–40. https://doi.org/10.26905/idjch.v12i1.4226.Abstrak

Farhani, A., & Chandranegara, I. S. (2019). Penguasaan Negara terhadap Pemanfaatan Sumber Daya Alam Ruang Angkasa Menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jurnal Konstitusi, 16(2), 235. https://doi.org/10.31078/jk1622

Faruq, F. U., & Hariri, A. (2023). Legal Certainty Certificate Of Land Rights Under National Law. Progresif Law Review, 5(2), 169–180.

Gutierrez, A. R. (2014). Une approche comparative entre le Conseil d’État colombien et le Conseil d’État français. Revista Virtual Via Inveniendi Et Iudicandi, 7(1), 18.

Heriyanto, B. (2019). Problematika Penyelesaian Perkara “Fiktif Positif” Di Pengadilan Tata Usaha Negara. Pakuan Law Review, 5(1), 38–56. https://doi.org/10.33751/palar.v5i1.1185

Kurniawan, F., Hasanah, S. M., Kasuma, M. N. A., Hukum, F., & Andalas, U. (2023). Paradigma Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja Terhadap Keputusan Tata Usaha Negara ( Ktun ) Bersifat Fiktif Positif Paradigm of Law Number 11 of 2020 Concerning Job Creation Regarding Fictive Positive Adm. Puslitbang Hukum Dan Peradilan Ditjen Badan Per, 6(11), 89–108.

Loi n° 2000-321 du 12 Avril 2000 relative aux droits des citoyens dans leurs relations avec les administrations;

Ley 39/2015, de 1 de octubre, del Procedimiento Administrativo Común de las Administraciones Públicas

Linawati, A. N., Sa’adah, N., & Juliani, H. (2018). Kajian Terhadap Implementasi Pasal 53 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 Tentang Administrasi Pemerintahan serta Implikasi dalam Praktik Penyelenggaraan Pemerintahan (Studi di Badan Pertanahan Nasional Kota Semarang). Diponegoro Law Journal, 7(1), 60–71.

M. Aschari, F. R. H. (2017). Kajian Tentang Kompetensi Absolut Peradilan Tata Usaha Negara Dalam Menyelesaikan Sengketa Keputusan Fiktif Positif. Jurnal Kajian Hukum, 2(1), 243–269. http://e-journal.janabadra.ac.id/index.php/KH

Malaka, Z. (2018). Kepemilikan Tanah dalam Konsep Hukum Positif Indoensia, Hukum Adat dan Hukum Islam. Al-Qanun: Jurnal Pemikiran Dan Pembaharuan Hukum Islam, 21(1), 103–127. https://doi.org/10.15642/alqanun.2018.21.1.103-127

Marzuki, P. M. (2016). Penelitian Hukum. Kencana.

Nugroho, H. (2002). Reformasi Politik Agraria Mewujudkan Pemberdayaan Hak-hak atas Tanah. Mandar Maju.

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah. (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 1997);

Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2021 tentang Hak Pengelolaan, Hak Atas Tanah, Satuan Rumah Susun, dan Pendaftaran Tanah.(Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6630);

Peraturan Presiden Nomor 48 Tahun 2020 tentang Badan Pertanahan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 84)

Putra, I. G. E. (2020). AAUPB Sebagai Dasar Pengujian dan Alasan Menggugat Keputusan Tata Usaha Negara. Pengadilan Tata Usaha Negara Palembang.

Riansyah, D. (2024). Dampak Hilangnya Kewenangan Ptun Dalam Mengadili Keputusan Fiktif Positif Perspektif Siyasah Syar’iyyah (Studi Ptun Kota Makassar). In Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

Rizkiana, R. E., & Gerry, M. (2022). Penanganan Hak Atas Perumahan Yang Layak Terkait Backlog Di Masa Pandemi Covid 19 : Studi Kasus Di Kota Samarinda (Decent Housing Rights Handling Related to Backlog during Covid-19 Pandemic : Samarinda City Case Study). HAM, 13(2), 287–304. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.30641/ham.2022.13.287-304

Roychan, W. (2023). Konsep Dan Penyelesaian Asas Fiktif Positif Menurut Ketentuan Hukum Positif Di Indonesia. Jurnal Magister Ilmu Hukum, 13(1), 69–90. https://doi.org/10.56943/dekrit.v13n1.140

Shidarta. (2013). Hukum Penalaran dan Penalaran Hukum. Genta Publishing.

Simanjuntak, E. (2018). Prospek Prinsip Fiktif Positif Dalam Menunjang Kemudahan Berusaha Di Indonesia. Jurnal Rechts Vinding: Media Pembinaan Hukum Nasional, 7(2), 301. https://doi.org/10.33331/rechtsvinding.v7i2.250

Suprapto. (2022). Eksistensi Prinsip Fiktif Positif Di Bidang Hukum Administrasi. Banua Law Review, 4(1), 75–84.

Sutendi, A. (2011). Sertifikat Hak Atas Tanah. Sinar Grafika.

Ul Akmal, D., Fitriansyah, H., & Ramadhan, F. A. (2023). Reformasi Hukum Pertanahan: Perlindungan Hukum Hak Atas Tanah TerhadapPengalihan Hak Secara Melawan Hukum. Negara Hukum, 14(2), 193–214.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.

Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 292, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5601)

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2022 Nomor 238, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6841);

Vidianti, F., Kenotariatan, M. M., Hukum, F., & Indonesia, U. I. (2024). Pembebanan Hak Tanggungan pada Hak Guna Bangunan Atas Tanah Hak Milik Fadhila Vidianti. 6.

Wicaksono, D. A., Hantoro, B. F., & Kurniawan, D. (2021). Quo Vadis Pengaturan Kewenangan Pengadilan Tata Usaha Negara Dalam Penerimaan Permohonan Fiktif Positif Pasca Penataan Regulasi Dalam Undang-Undang Cipta Kerja (Quo Vadis of the State Administrative Court’s Authority Provision on Deciding Fictitious Posit. Jurnal Rechts Vinding: Media Pembinaan Hukum Nasional, 10(2), hlm. 334.

Yuliani, A., Tasya, Yassin, P. J. Y., & Septiany, W. (2023). Tinjauan Pengaruh Teori Positivisme Hukum Terhadap Sistem Peradilan Pidana Di Indonesia. Das Sollen: Jurnal Kajian Kontemporer Hukum Dan Masyarakat , 02(01), 1–25. https://doi.org/10.11111/dassollen.xxxxxxx

Yuniza, M. E., & Inggarwati, M. P. (2021). Peluang dan Tantangan Penerapan Keputusan Fiktif Positif Setelah Undang-Undang Cipta Kerja Diundangkan. Jurnal de Jure, 13(2), 114–129.

Downloads

Published

2025-02-26